S-CSR, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Berbasis Syari’ah

S-CSR, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Berbasis Syari’ah

ABSTRAK

Tulisan ini menelaah sebuah Hadits Rasulullah Saw. yang menceriterakan pemanfaatan hasil suatu usaha yang tidak disebutkan jenisnya di atas sebidang lahan tadah hujan. Hasil dari usaha itu digunakan masing-masing sepertiganya untuk sedekah di jalan Allah Swt,. untuk menghidupi anak dan istri, dan untuk dikembalikan ke lahan itu.  Hadits tersebut memberikan pelajaran sebagai berikut: (1) berusaha harus menggunakan input secara optimal; (2) pemilihan jenis usaha harus disesuaikan dengan kemampuan sarananya: (3) berusaha harus bersikap optimistik, bukan pesimistik; (4) hasil usaha harus digunakan masing-masing sepertiganya untuk  tujuan/sasaran bersedekah di jalan Allah, menghidupi keluarga inti, dan mempertahankan keberlanjutan usahanya; (5) porsi CSR  adalah  50% dari keuntungan usaha, bukan 1-5% seperti rumusan untuk BUMN; (6) sasaran pokok nafkah dari seorang kepala keluarga adalah keluarga inti; (7) menjalankan usaha harus ulet agar usaha tersebut dapat dipertahankan; (8) usaha yang tangguh tidak cukup hanya layak (memiliki Net B/C ≥ 1), melainkan memiliki Net B/C ≥ 2; (9) penggunaan sepertiga hasil usaha untuk sedekah di jalan Allah (tanggung jawab sosial perusahaan berbasis syariah, shari’ah-based corporate social responsibility, S-CSR) menjamin keberlanjutan usaha akibat keberkahan; (10) pengusaha harus memberikan perhatian yang memadai terhadap  input, process, output, outcome, dan impact dari usaha yang dijalankannya.

 

Harian Republika tanggal 28 April 2007 menyajikan halaman “Liputan Khusus” bertopik CSR (corporate social responsibility, ’tanggung jawab sosial perusahaan’). Tiga artikel tentang pokok bahasan itu, yang termuat di halaman 21, sangat menarik untuk ditelaah, khususnya yang berkenaan dengan kewajiban Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan CSR sebesar 1-5% dari keuntungan, rencana The International Organization for Standardization (ISO) menerbitkan ISO 26000, dan komponen/parameter tanggung jawab sosial yang tengah digodog oleh ISO. Tulisan ini bermaksud  mengajak para pembaca untuk merenungkan dan mengambil pelajaran dari  Hadits Rasulullah, Nabi Muhammad Saw. yang telah memberikan perhatian khususnya pada CSR dan umumnya dalam etika berusaha atau berbisnis. Berikut ini disajikan kutipan terjemahan dari hadits yang berdasarkan riwayat Muslim, Misykat, tersebut.

“Dari Abu Hurairah R. A. dari Nabi Saw., beliau bersabda bahwa ketika berada di padang pasir, salah seorang mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah air ke atas tanah Si Fulan’. Setelah itu awan tersebut mulai bergerak ke suatu arah dan menurunkan hujan lebat ke atas sebidang tanah yang keras dan berbatu. Seluruh air itu menggenang di suatu tempat lalu mengalir melalui satu saluran. Orang yang mendengar suara itu pun mengikuti aliran air itu. Air itu telah sampai ke suatu tempat di mana seseorang sedang sibuk memasukkan air itu ke tanahnya. Dia bertanya kepada orang itu, ’Siapakah Anda?’ Orang itu memberitahukan namanya seperti yang ia dengar dari awan tadi. Pemilik tanah itu kemudian bertanya, ‘Mengapa Anda menanyakan nama saya?’ Dia berkata, ‘Saya mendengar suara dari awan yang daripadanya Anda mendapat air, ‘curahkanlah air kepada tanah Si Fulan, dan nama Andalah yang telah saya dengar dari awan itu. Amalan apakah yang Anda lakukan di tanah ini?’ Pemilik tanah itu menjawab, ‘Karena Anda telah menjelaskan semuanya, saya pun terpaksa menerangkannya. Apa pun yang saya hasilkan dari tanah ini saya bagikan ke dalam tiga bagian. Satu bagian segera saya sedekahkan di jalan Allah Swt., satu bagian saya gunakan untuk keperluan anak-isteri, dan satu bagian lagi saya gunakan untuk tanah ini’.”

Menurut hemat penulis, terdapat  lima hal yang perlu ditelaah atau diambil sebagai pelajaran dari hadits tersebut, yaitu  (1) Si Fulan yang memasukkan sendiri air hujan yang mengalir di saluran ke lahannya; (2) pertanyaan dari seseorang (Sahabat Rasulullah) mengenai jenis amalan yang dilakukan Si Fulan di lahan yang mendapat pasokan air hujan itu; (3) jawaban Si Fulan yang tidak menyatakan secara spesifik jenis usaha yang dilakukan di lahannya; (4) jawaban Si Fulan yang menggunakan hasil lahannya itu menurut tiga tujuan/sasaran, yaitu untuk sedekah di jalan Allah, untuk keperluan anak-istri, dan untuk dikembalikan ke lahan itu; (5) rumusan Si Fulan penggunaan hasil lahan menjadi masing-masing sebesar sepertiganya untuk ketiga tujuan/sasaran penggunaan tersebut.  Penelaahan atas kelima hal itu setidaknya, menurut hemat penulis, menghasilkan butir-butir tuntunan agama dalam berbisnis sebagai berikut.

Penggunaan sumber daya untuk masukan (input) usaha secara optimal

Hadits tersebut di atas tidak secara spesifik menyebutkan jenis kegiatan usaha Si Fulan di lahannya, misalnya, jika dirunut dari pertanyaan seseorang (Sahabat Rasulullah) tentang amalan Si Fulan di lahannya dan jawaban Si Fulan sebagai pemilik lahan tentang penggunaan hasil yang didapat dari bentuk amalan apa pun di lahannya, lebih-lebih jika dirunut dari penjelasan Si Fulan tentang tujuan penggunaan hasil dan proporsinya masing-masing. Memang, dengan pernyataan tentang sumber air,   kondisi tanah,  dan adanya saluran air serta penyaluran air ke lahan Si Fulan,  hadits itu mengisyaratkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan Si Fulan di lahannya adalah pertanian. Dalam hubungan ini, pernyataan selanjutnya tentang hasil lahan dan tentang adanya bagian dari hasil yang dikembalikan ke dalam lahannya dapat dipahami sebagai mengacu pada kegiatan pertanian itu. Namun, jika yang dimaksud hadits itu benar pertanian, bentuk pertaniannya pun tidak disebutkan secara spesifik.

Wilayah yang keras dan berbatu tempat lahan Si Fulan berada mengisyaratkan bahwa kondisi tanah di lahan Si Fulan itu tidak subur dan memerlukan air untuk kegiatan bercocok tanam. Tampaknya, mengingat tanahnya yang tidak subur dan kekeringan itu, Si Fulan sibuk memasukkan air hujan tersebut dari saluran yang ada ke lahannya, suatu upaya yang logis jika hal itu dilakukan untuk kegiatan bercocok tanam. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan Si Fulan memanfaatkan air tersebut untuk berbudi daya ternak atau ikan karena keduanya pun memerlukan air. Terbuka pula kemungkinan Si Fulan dapat memanfaatkan air tersebut untuk usaha pertanian terpadu (diversifikasi horizontal) yang sekaligus membudidayakan tanaman, ternak, dan ikan. Bahkan, dapat pula Si Fulan bertani secara terpadu lainnya (diversifikasi vertikal) untuk menghasilkan nilai tambah dari kegiatan usahanya yang hanya satu komoditi dengan melakukan usaha pengolahan atas hasil usaha taninya. Dengan demikian, hadits yang kita telaah itu setidaknya memberikan rujukan untuk kegiatan agribisnis. Meskipun demikian, kembali kepada istilah amalan yang digunakan oleh Sahabat Rasulullah, hadits ini tidak membatasi jenis usaha di atas lahan itu. Isyarat pertanian yang “kental” dari hadits itu disebabkan oleh nuansa peristiwanya yang terjadi berkaitan dengan adanya hujan. Selain dari kegiatan pertanian, amalan itu mungkin pula mencakup segala kegiatan usaha yang memerlukan air.

Upaya Si Fulan memasukkan air hujan dari saluran ke lahannya yang keras dan berbatu dan tidak adanya pernyataan khusus tentang jenis usahanya mengisyaratkan bahwa jika kita berbisnis, hendaknya kita dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk input usaha apa pun yang dilaksanakan (di atas lahan) secara optimal, sesuai dengan kemampuan lahannya.

Tantangan berusaha untuk mendatangkan hasil (output)

Jawaban Si Fulan yang tidak menyatakan secara spesifik jenis amalan (usaha) yang akan dilaksanakan di lahannya atas pertanyaan Sahabat Rasulullah memberikan pelajaran bahwa jika kita akan berusaha, kita harus dapat menentukan jenis usaha yang sesuai dengan kemampuan sarananya, yang dalam hal hadits tersebut berupa lahan. Di atas telah dikemukakan bahwa di lahannya, dengan memanfaatkan air hujan, Si Fulan dapat memilih jenis usaha yang memerlukan air dari beberapa alternatif jenis usaha yang dapat dilaksanakan.

Sikap optimistik dalam berbisnis, bukan pesimistik

Hal yang penting pula dari Hadits Rasulullah itu adalah penggunaan kata hasil dari lahannya oleh Si Fulan untuk menjawab pertanyaan Sahabat Rasulullah. Penggunaan kata hasil ini membekali cara pandang yang seharusnya kita lakukan pada waktu berbisnis. Pada umumnya, orang-orang yang berbisnis selalu memberikan perhatian pada pentingnya mempertimbangkan risiko dari bisnis yang sedang dilakukan, bahkan, sejak bisnis itu masih direncanakan. Menurut hemat penulis, meskipun dapat mendorong pengusaha untuk berhati-hati, kata risiko mendatangkan rasa pesimistik pada diri seseorang yang (akan) berbisnis. Dalam hadits di atas, kita melihat optimisme dari Si Fulan ketika memikirkan hasil dari amal yang akan dilaksanakan di lahannya. Jadi, salah satu tuntunan Rasulullah dalam berbisnis adalah perlunya optimisme diyakinkan ke dalam diri pelaku bisnis, bukan rasa waswas akan risiko yang dihadapi oleh bisnisnya. Memikirkan risiko bisnis (sikap pesimis) akan menyesakkan dada karena kegagalan bisnis yang menghantu. Sebaliknya, memikirkan hasil bisnis (sikap optimis) akan menimbulkan ketenangan karena harapan keberhasilan dalam berbisnis yang membayang. Menurut tuntunan Islam, proses dalam berbisnis itu yang akan mendapat nilai dari Tuhan, bukan semata-mata produknya. Jadi, setelah melaksanakan proses berbisnis dengan baik dan benar, antara lain, dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, pelaku bisnis tinggal bertawakal, menunggu hasilnya yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Tiga tujuan/sasaran hasil berbisnis

Kita perlu terlebih dahulu mencari padanan istilah yang sesuai untuk ketiga tujuan pemanfaatan hasil bisnis dalam Hadits Rasulullah menurut terminologi berbisnis pada masa kini. Penulis mengusulkan sebagai berikut: tujuan sedekah di jalan Allah setara dengan tanggung jawab sosial perusahaan berbasis syari’ah (TJSP-S) atau shari’ah-based corporate social responsibility (S-CSR), yang dijadikan pokok bahasan dalam tulisan ini;  tujuan keperluan anak dan istri setara dengan keperluan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga inti, termasuk di dalamnya Si Pemilik Usaha dan orang-orang yang digaji untuk kepentingan keluarga inti (misalnya pembantu rumah tangga); tujuan untuk lahan dapat dipahami sebagai biaya usaha yang dilaksanakan di atas lahan itu (jika usahanya pertanian, berarti biaya usaha tani), termasuk di dalamnya biaya untuk pengawetan tanah dan air. Jadi, Hadits Rasulullah mengisyaratkan bahwa apa pun jenis usaha yang dilaksanakan, hasilnya hendaknya digunakan untuk tiga tujuan/sasaran, yakni untuk S-CSR, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga inti, dan  untuk biaya agar bisnis dapat berkelanjutan di atas lahan itu.

S-CSR = 50% versus CSR = 1-5%

Dari rumusan penggunaan hasil menjadi sepertiganya untuk setiap tujuan/sasaran  yang tiga tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa besar S-CSR adalah 33,3%, biaya untuk menghidupi keluarga inti 33,3%, dan biaya untuk menjalankan bisnis kembali 33,3 % dari hasil bisnis. Kita dapat menggabungkan proporsi peruntukan S-CSR dan menghidupi keluarga inti sebagai keuntungan dari berbisnis. Dengan demikian, rumusan bisnis menurut hadits itu akan memberikan kontribusi CSR sebesar 50% dari keuntungan. Padahal, rumusan Pemerintah RI yang telah dikemukakan oleh Dirjen Pemberdayaan Sosial, Departemen Sosial RI,  menyajikan angka CSR sebesar 1-5% dari keuntungan untuk BHMN dan tidak ada rumusan untuk jenis usaha lainnya. Kita lihat di sini, betapa Islam memberikan perhatian yang besar terhadap CSR, yakni berkisar dari 10 sampai 50 kali rumusan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk BHMN. Hingga di sini kita dapat memahami bahwa Hadits Rasulullah tersebut di atas ternyata tidak saja mengharuskan pemilik bisnis peduli kepada dirinya dengan memaksimalkan hasil (output) dan mengoptimalkan masukan (input) sebagaimana yang telah dibahas terdahulu, melainkan juga memberikan hasil (outcome) bagi keluarga yang menjadi  tanggung jawabnya  dan dampak (impact) yang besar bagi kemaslahatan masyarakat dengan proporsi CSR sebesar 50% dari keuntungan itu.

Dalam artikel “Aktivitas Primadona” di Republika yang menjadi salah satu rujukan tulisan ini kita telah mengetahui lima komponen CSR berdasarkan studi pustaka penulisnya, yaitu untuk (1) proteksi terhadap lingkungan, (2) hubungan manusiawi dengan pekerja, (3) komitmen pada HAM, (4) proses produksi yang bersih (sesuai etika bisnis), dan (5) community development (aksi filantropis, sebagai aksi CSR paling sederhana). Juga dalam artikel lainnya yang berjudul “ISO 26000, supaya Perusahaan Lebih Peduli”, bahwa menurut Timotheus Lesmana dari Badan Standardisasi Nasional (BSN),   parameter yang akan digunakan dalam ISO 26000 itu  terdiri dari tujuh hal, yaitu (1) lingkungan, (2) HAM, (3) tenaga kerja, (4) tata kelola, (5) isu-isu konsumen, (6) pelibatan masyarakat, dan (7) pelaksanaan bisnis secara adil.  Umat Islam perlu memikirkan apakah kelima komponen atau ketujuh parameter CSR tersebut sudah memadai  jika digunakan sebagai rincian sedekah di jalan Allah sebagaimana yang dinyatakan dalam Hadits Rasulullah di atas. Penulis meyakini bahwa kita dapat merumuskan bentuk-bentuk CSR yang benar menurut tuntunan Islam, yaitu S-CSR yang sesuai dengan kemampuan pembisnis dan keperluan masyarakat.

Menafkahi keluarga inti sebagai kewajiban pokok

Pemahaman atas hadits di atas bahwa anak dan istri mendapat bagian sepertiga dari hasil bisnis berarti bahwa kewajiban pokok menafkahi dari seorang kepala keluarga adalah kepada keluarga inti. Jadi, sasaran pokok nafkah dari seorang kepala keluarga adalah keluarga inti. Artinya, pada dasarnya, bukanlah kewajiban dari seorang kepala keluarga untuk menyisihkan sebagian dari penghasilannya guna menghidupi selain keluarga inti atau  untuk menumpuk kekayaan hasil bisnisnya untuk kehidupan cucunya, lebih-lebih demi keturunan selanjutnya. Namun, jika perusahaannya cukup besar sehingga sepertiga penghasilannya melebihi keperluan nafkah keluarga inti, pemilik usaha dapat saja memberi sedekah (non-CSR) kepada sanak-saudara dan handai taulannya dari kelebihannya itu, selain mungkin juga pengusaha atau pemilik perusahaan memberikan sedekah dari komponen CSR kepada pihak-pihak tersebut. Oleh karena itu, dalam konteks ini, pengusaha harus mampu menetapkan kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Jadi, seperti yang telah dikemukakan, memberikan santunan kepada nonkeluarga inti berarti meningkatkan amal sedekah melebihi angka CSR yang dirumuskan oleh Hadits  Rasulullah.  Nyatalah bahwa ajaran Islam yang telah berusia lebih dari 14 abad itu memberikan pedoman pentingnya melakukan tanggung jawab sosial dalam berbisnis, bukan hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri dan demi keluarga tanggungan serta mempertahankan keberlanjutan bisnisnya untuk kepentingan sendiri. Selain itu, tidak ada salahnya pula jika pembisnis menyisihkan kelebihan hasil usaha dari peruntukan keperluan nafkah keluarganya untuk tabungan mempersiapkan peristiwa bisnis yang merugi sewaktu-waktu atau untuk menghadapi masa pensiunnya. Dalam cara pemahaman yang “kaku” (jangan-jangan ini justru merupakan sikap visioner), pembisnis dapat merencanakan alokasi untuk sedekah kepada keluarga bukan tanggungannya itu dari komponen CSR. Sebaliknya, sangat terpuji jika cara “luwes” ditempuhnya, yaitu menyisihkan bagian dari hak keluarga tanggungannya menjadi sedekah lain di luar ”jatah” CSR perusahaannya.

Keuletan dalam berbisnis dan keberlanjutan bisnis

Rumusan bahwa sepertiga bagian dari hasil diperuntukkan bagi biaya berbisnis kembali menunjukkan bahwa pembisnis harus ulet karena hal itu merupakan ”tantangan” dari Rasulullah. Pada waktu keuntungan yang didapat tidak mencapai dua kali biayanya, pembisnis harus siap memulai usahanya dengan skala yang lebih kecil daripada yang sebelumnya jika efisiensi biaya tidak dilakukan. Jika efisiensi biaya dapat dilakukan dengan memadai, pembisnis mungkin masih dapat mempertahankan skala bisnis sebelumnya itu. Skala usaha yang sama dengan sebelumnya juga dapat dilakukan tanpa efisiensi biaya jika pembisnis memiliki tabungan yang cukup seperti yang dikemukakan di atas. Lebih jauh, dengan perolehan laba yang lebih besar daripada yang sebelumnya, Hadits Rasulullah memberikan arahan bahwa bisnis yang dikelola itu dapat ditingkatkan skalanya karena sepertiga dari hasilnya itu (untuk komponen biaya) memiliki nilai nominal yang lebih besar daripada yang diperoleh sebelumnya.  Jadi, pembisnis harus memahami Hadits Rasulullah itu sebagai dorongan untuk tetap memikirkan kelanjutan bisnisnya dalam segala kondisi. Dengan keuletan, risiko mengalami rugi seharusnya dapat diatasi agar bisnis tetap berkelanjutan.

Bisnis yang tangguh memiliki keuntungan bersih sebesar dua kali biaya

Rumusan hadits menjadi 1/3 -1/3 – 1/3 (dari hasil atau pendapatan) untuk dana S-CSR, nafkah keluarga inti atau tanggungan, dan biaya bisnis kembali menunjukkan bahwa keuntungan bersih bisnis tersebut adalah 2/3 atau 66,7% dari pendapatannya. Dengan biaya sebesar 1/3 atau 33,3% dari pendapatan, nisbah keuntungan bersih terhadap biayanya menjadi 2. Rumusan ini tidakkah mengisyaratkan bahwa bisnis yang layak menurut kriteria kelayakan Net B/C ≥ 1 belumlah cukup, melainkan hendaknya bernilai Net B/C ≥ 2 sehingga tidak saja layak, tetapi juga tangguh. Penulis membayangkan seolah-olah ketika menyaksikan peristiwa yang diriwayatkan dalam hadits tersebut di atas, Rasulullah sudah mengetahui bahwa pada masa yang akan datang, termasuk masa kita sekarang berada, bidang ekonomi hanya akan sampai kepada pemahaman bahwa bisnis yang layak itu harus bernilai Net B/C ≥ 1. Namun, mengapa tidak, bukanlah seolah-olah, pada saat itu Rasulullah memang mengetahui persis (karena wahju yang diterimanya) bahwa di masa mendatang hanya akan sejauh itu bidang ekonomi berwawasan. Bahkan, bukankah mengenai CSR itu sendiri, The International Organization for Standardization hingga saat ini masih melakukan pembahasan mengenai ketentuan-ketentuan yang akan dirumuskan dalam ISO 26000? Hal ini memperjelas bahwa wawasan Islam tentang berbisnis yang tangguh dan beretika telah jauh mendahului kemampuan pemahaman dunia ilmu pengetahuan kita hingga saat ini. CSR telah dipraktekkan menjadi kewajiban ”perusahaan” di “Zaman Berkendaraan Unta”, lebih dari 14 abad yang lalu, sedangkan ISO baru akan mengeluarkan rumusan ISO 26000 yang mengatur CSR itu di ”Zaman Berkendaraan Sistem Informasi” ini, tahun depan.

Bisnis yang berkah menjamin ketangguhan

Jika pendapatan besarnya 100%, bisnis yang nilai keuntungan bersihnya sama dengan biaya berarti memiliki keuntungan bersih dan biaya masing-masing sebesar 50% dari pendapatannya. Selanjutnya, jika kita telaah bisnis yang bernilai keuntungan bersihnya dua kali biayanya, dengan pendapatan yang 100% itu akan dikeluarkan biaya 33,3%, sedangkan keuntungan bersihnya diperoleh 66,7%. Jika berdasarkan rumusan itu kedua bisnis diperbandingkan, bisnis yang kedua lebih efisien dalam pembiayaannya, yakni menghemat 16,7%. Oleh karena itu, penulis berkeyakinan bahwa bisnis yang dijalankan dengan mengacu pada  Hadits Rasulullah itu dalam rumusan penggunaan hasilnya merupakan bisnis yang tangguh, tidak saja layak. Lebih jauh, bisnis yang tangguh itu akan menjadi bisnis yang berkah jika menerapkan S-CSR dengan ikhlas (sebagai wujud bersyukur) untuk mencari keridaan Allah Swt. Keberkahannya diperoleh karena, menurut tuntunan agama, harta yang disedekahkan di jalan Allah Swt  bukan berarti akan mengurangi rizki/kekayaan pendermanya, melainkan akan menjadi “alasan” Allah Swt untuk melipatgandakan kekayaan/rizkinya. Komitmen pemilik bisnis terhadap S-CSR,  penafkahan keluarga inti atau tanggungannya, dan pengalokasian biaya bisnis sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits itulah rupanya yang akan menyebabkan bisnis  berkelanjutan (sustainable) akibat karunia keberkahan. Jadi, bisnis yang layak saja tidaklah cukup karena berisiko tidak menjadi tangguh dan  belum tentu berkah; bisnis pelaku S-CSR berpengharapan menjadi bisnis yang tangguh karena keberkahannya.

Penutup: pertanyaan-pertanyaan yang tersisa

Hingga di sini tampak kepada kita bahwa Islam memandu pembisnis menggunakan hasilnya untuk tiga tujuan/sasaran, yaitu kepentingan masyarakat di jalan Allah (S-CSR), kepentingan keluarga inti atau tanggungan, dan kepentingan kelanjutan bisnis itu sendiri. Rumusan sepertiga-sepertiga-sepertiga dari hasil yang diterima pembisnis untuk memenuhi ketiga kewajiban itu menunjukkan bahwa bobot kepedulian pengusaha  untuk ketiga sasaran pengguna hasil bisnis itu hendaknya tidak berbeda. Kebutuhan masyarakat di jalan Allah, kebutuhan keluarga inti atau tanggungan, dan kebutuhan berproduksi sama-sama harus diperhatikan oleh Si Pengusaha. Bukankah, menurut hadits pula, seorang muslim dengan muslim lainnya laksana satu tubuh? Bukankah pula, menurut hadits, senyum saja sudah bernilai sedekah? Padahal, dari bisnis yang dihasilkan ini terdapat sepertiga dari hasil, yang besarnya bergantung pada besar hasil itu, yang dapat disedekahkan di jalan Allah Swt. dengan cara yang lebih dari sekadar tersenyum. Jadi, jalan Allah Swt. yang mana yang sebaiknya menjadi penerima sedekah itu, apakah lima atau tujuh komponen/parameter seperti yang dikemukakan oleh penulis dua artikel di Republika itu?. Selanjutnya, bukankah keberlanjutan bisnis itu pun berarti mempertahankan kedua sasaran lainnya itu?

Penulis menyadari bahwa pemahaman yang diuraikan atas Hadits Rasulullah Swt memerlukan verifikasi sehubungan dengan adanya ketentuan kewajiban berzakat. Sebagai contoh, jika bisnis itu berupa kegiatan bercocok tanam tanaman lanskap yang sumber airnya berupa air tadah hujan seperti dalam hadits di atas, apakah sedekah di jalan Allah Swt (S-CSR) harus 33,3% dari hasil kebunnya ataukah hanya 23,3% karena harus dikurangi dengan angka 10% dari hasil kebun yang wajib dikeluarkan sebagai zakat setelah panen. Bagaimana pula jika sumber airnya memerlukan biaya, apakah S-CSR sebesar 33,3% dari hasil  penjualan tanaman lanskapnya, ataukah harus dikurangi dahulu 5%, besaran kewajiban zakatnya. Lebih jauh, kapan rumusan 1/3-1/3-1/3 itu sebaiknya diterapkan agar bisnis yang dikelola dapat berkelanjutan. Dalam hal ini penulis berpendapat mungkin sebaiknya rumusan tersebut baru diterapkan sejak titik impas (break even point) tercapai. Demikian pula, benarkah pemahaman bahwa Hadits Rasulullah itu mengisyaratkan bisnis yang tangguh, dan pasti layak, bernilai Net B/C ≥ 2, bukan Net B/C ≥ 1? Lebih jauh, bagaimana pemahaman yang tepat atas rumusan 1/3-1/3-1/3 itu jika lahan yang diusahakan bukan lahan milik karena pada waktu ini ada yang disebut dengan lahan garapan saja?

Penulis berharap Hadits Rasulullah tersebut menjadi bahan telaahan yang lebih memadai dari, khususnya, para ustadz, ulama, dan muslim cendekia lainnya agar konsepsi CSR yang kini tengah digodog ISO itu benar-benar sejalan dengan nilai-nilai Islam jika diikuti oleh para pengusaha Indonesia.. Bukankah ISO akan membuang kata perusahaan (corporate) dalam naskah ISO 26000 yang akan diberlakukan tahun depan?. Umat Islam sendiri yang seharusnya dapat ”mengamankan” konsep CSR profetik agar tidak terdistorsi oleh praktik berbisnis yang sekular. Padahal, Si Fulan dalam Hadits Rasulullah Saw. itu menyatakan akan menyegerakan sepertiga hasil yang didapatnya untuk sedekah di jalan Allah, yakni untuk S-CSR. Akhirnya, adakah di antara pengusaha muslim yang akan bersegera menerapkan Hadits Rasulullah tersebut di atas demi mencari keridaan-Nya dan tidak menganggap rumusannya sebagai wacana?

Wallahu a’lamu bishshawab.

Bogor, 18 Juni 2007.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *